PT. Dharma Medika Estetika

Selamat Datang di Website PT. Dharma Medika Estetika : DARPLASTIC AESTHETIC CLINIC, COSMETIC CLINIC, Laboratorium, Apotik, Reflexi Therapy, Spa. Dr. DHARMA PTR MALUEGHA., Spesialis Bedah Plastik......
PT. Dharma Medika Estetika

Pilihan Bahasa

 

Pelayanan Gratis

    Polling

    Apakah informasi yang ditampilkan di website ini membantu anda?
     Ya
     Mungkin
     Tidak

    Statistik Web

    Total Total Kunjungan : 178256
    Today Kunjungan Hari Ini : 160
    Online Online User : 1
    Update Last Update : 19-07-2014

     

    Bagian ke enam

    1. Dada

    \r\n

                Mamma Hipertropik disebut juga sebagai Virginal Mamma Hypertrophy. Payudara mulai membesar saat pubertas, penuh dengan jaringan ikat. Sekalipun payudara ini besar tetapi hamper pasti tidak dapat berfungsi laktasi. Payudara yang hipertropik baik yang satu sisi atau kedua sisi, maupun payudara ptosis merupakan indikasi untuk dilakukan reduksi mammoplasty. Keluhan psikologis disertai keluhan beban berat yang terasa pada pundak penderita merupakan faktor yang mendorong penderita mencari pengobatan. Penderita diatas 35 tahun sebaiknya dilakukan pemeriksaan mammografi untuk kemungkinan keganasan. Pemeriksaan patologi dari spesimen juga diperlukan.

    \r\n

    \r\n

    Gambar 76. Reduksi payudara

    \r\n

    \r\n

    Gambar 77. Lejour procedure pada Large Breast

    \r\n

                Untuk ukuran yang tidak terlalu besar, reduksi dapat dilakukan menurut prosedur Mc.Kissock, Regnault B, Aries-Pitanguy, Strőmbeck, Dufourmentel - Muoly, Weiner, Skoog dan Courtesy Medeleine Lejour dimana areola dapat dipertahankan. Untuk ukuran payudara yang sangat besar dan pengambilan jaringan mendekati  ≥ ¾ kg dapat dipakai metode Thorex, dimana areola mammae dieksisi pada permulaan pembedahan, dan ditanam kembali pada akhir pembedahan ditempat yang baru sebagai komposit graft.

    \r\n

    Anatomi payudara

    \r\n

    \r\n

    Gambar 78. Anatomi payudara tampak samping

    \r\n

    \r\n

    Gambar 79. Vascularisasi payudara

    \r\n

    A                            B                          C

    \r\n

    \r\n

    D                             E                         F

    \r\n

    Gambar80. A. Dufourmentel and Mouly methods, B. Stromneck methods, C. McKissock methods, D. Weiner methods, E. Arie methods, F.Skoog methods

    \r\n

    Komplikasi yang mungkindapat terjadi:

    \r\n

    1.               Fat necrosis

    \r\n

    2.               Hypertrophic scarring

    \r\n

    3.               Total or partial loss of the nipple-areola complex (NAC)

    \r\n

    4.               Asymmetry

    \r\n

    5.               Insufficient reduction

    \r\n

    6.               Overreduction

    \r\n

    7.               Change in sensation

    \r\n

    8.               Loss of breast

    \r\n

    9.               Infection

    \r\n

    10.            “Bottoming out” ; change in shape over time

    \r\n

    11.            Inability to breast-feed

    \r\n

    12.            Aesthetically unpleasant NAC placement

    \r\n

    A                                    B

    \r\n

    \r\n

    C                                                D

    \r\n

    Gambar 81. Free nipple graft technique.  A. Markings are identical to those for inferior pedicle technique, except that no pedicle is marked. (If greater “fill” is desired under flaps, inferior “pedicle” of tissue but no NAC can be use), B. NAC is removed as full-thickness graft, and excess glang is amputated. C. Once gland is assembled, new NAC site is determined and deepithelialized (dotted area). D. Graft is sutured into its new position

    \r\n

    Mammae post ablation. Setelah mastektomi karena keganasan, rekonstruksi mammae merupakan upaya untuk mengembalikan bentuk payudara meskipun tanpa fungsi laktasi. Rekonstruksi dilakukan atas permintaan penderita dengan memperhatikan kaidah yang terkait dalam tatalaksana penanganan tumor ganas payudara

    \r\n

    Rekonstruksi dilakukan dengan dua cara yaitu:

    \r\n

    1.               Flap lokal

    \r\n

    2.               Flap muskulokutaneus

    \r\n

    Bila jaringan lokal masih dapat digunakan maka dapat dilakukan pemasangan implant (silicon) secara langsung atau setelah dilakukan insersi tissue expander. Flap muskulokutaneus dapat menggunakan dari Latissimus dorsi atau Rectus abdominis. Untuk rekonstruksi areola mammae, bila unilateral dapat diambilkan dari sebagian areola kontra-lateral yang sehat sebagai donor.

    \r\n

    2. Dinding Belakang Tubuh

    \r\n

                Pressure Sores (borok tindih/ ulkus dekubitus) biasanya disebabkan karena tekanan yang sangat lama pada jaringan lunak antara alas tidur dan bagian-bagian tulang. Hilangnya sensibilitas seperti nyeri menjadi factor penambah terjadinya ulkus. Penderita yang mudah terkena adalah penderita usia lanjut yang tidak lagi aktif, paraplegi serta penderita yang terpaksa berbaring lama dengan keadaan umum yang kurang baik.

    \r\n

    \r\n

    Gambar 82. Ulkus Dikubitus (pressure Sore)

    \r\n

                Nekrosis jaringan yang terjadi adalah akibat dari proses hypoksia yang lama disertai trombosis. Infeksi mempercepat proses tersebut. Keadaan lain yang dapat memperburuk adalah malnutrisi, pergeseran-pergeseran (friksi), adanya memar atau kontosio jaringan. Tempat yang rawan terjadi ulkus menurut urutan frekuensi yaitu:

    \r\n

    1.               Sacrum

    \r\n

    2.               daerah Trochanter

    \r\n

    3.               Calcaneus

    \r\n

    4.               Malleolus

    \r\n

    5.               Pretibial

    \r\n

    6.               Patella

    \r\n

    7.               Spina anterior et superior

    \r\n

    8.               Siku

    \r\n

                Istilah dekubitus sebenarnya untuk ulkus yang terjadi bila penderita lama berbaring, karenanya pressure sores (borok tindik) merupakan terminology yang lebih tepat. Gambaran klinik dapat berkembang dalam tujuh stadium:

    \r\n

    1.               Erythema kulit pada daerah tekanan

    \r\n

    2.               Kemerahan, udema, indurasi kadang-kadang dengan kulit terkelupas. Sampai stadium ini masih reversibel

    \r\n

    3.               Destruksi kulit dan lemak

    \r\n

    4.               Nekrosis kulit sampai fascia atau otot

    \r\n

    5.               Nekrosis kulit, lemak dan otot. Mulai stadium keempat dan kelima sudah perlu intervensi bedah

    \r\n

    6.               Tulang terkena

    \r\n

    7.               Gejala tersebut diatas ditambah dengan osteomyelitis, sepsis, fraktur patologis yang dapat membawa kematian.

    \r\n

    Pembagian lain dari Ulkus dekubitus :

    \r\n

    \r\n

                Pengobatan terdiri atas intervensi sistemik dan lokal. Stadium pertama dan kedua masih dapat reversibel dengan perawatan konservatif, demikian juga dengan stadium tiga bila tidak lebar dan memdapat perawatan yang baik. Pengobatan sistemik terdiri atas perbaikan nutrisi, koreksi anemia, penanggulangan infeksi, pengendalian spasme otot, pengendalian dari tekanan. Pemeriksaan X-foto juga perlu dilakukan untuk mengetahui penyebaran proses kedaerah yang lebih dalam termasuk tulang. Pengobatan lokal dapat dengan konservatif atau pembedahan yaitu dengan perubahan posisi penderita dan pembersihan borok. Kultur bakteri perlu dilakukan. Pengobatan konservatif hanya untuk yang ringan atau sebagi persiapan pembedahan. Pembedahan bertujuan untuk eksisi seluruh jaringan nekrosis dan resurfasi defek. Beberapa bentuk flap lokal dapat digunakan untuk menutuf defek yang ada.

    \r\n

    PROSEDUR DIAGNOSIS ULKUS DIKUBITUS

    \r\n

    PEGERTIAN

    \r\n

    Ulkus dekubitus atau lebih tepat disebut dengan pressure sores adalah suatu nekrosis seluler dan kerusakan vaskuler pada daerah tertentu karena tekanan pada dasar yang keras terutama daerah tubuh yang menonjol. Hal ini bisa terjadi terutam pada penderita dengan:

    \r\n

    Ø     Gangguan kesadaran

    \r\n

    Ø     Gangguan sensibilitas

    \r\n

    Ø     Perawatan yang tidak baik

    \r\n

    TUJUAN

    \r\n

    Menegakkan diagnosis penderita ulkus dekubitus

    \r\n

    KEBIJAKAN

    \r\n

    Pemeriksaan klinis

    \r\n

    Anamnesa

    \r\n

    Pemeriksaan fisik

    \r\n

    ü     Umum

    \r\n

    ü     Lokal, adanya tanda-tanda tekanan yang lama pada daerah tubuh yang menonjol. Gejala yang timbul sesuai stadiumnya yaitu:

    \r\n

    o      Stadium I         : hiperemi

    \r\n

    o      Stadium II        : iskemi

    \r\n

    o      Stadium III       : nekrosis

    \r\n

    o      Stadium IV      : ulserasi

    \r\n

    Dicari faktor-faktor yang mendasari terjadinya ulkus dekubitus seperti:

    \r\n

    ü     Gangguan kesadaran

    \r\n

    ü     Gamgguan sensibilitas

    \r\n

    ü     Pearawatan yang kurang baik

    \r\n

    ü     Malnutrisi

    \r\n

    ü     Anemia

    \r\n

    Pemeriksaan Laboratorium : pemeriksaan darah lengkap

    \r\n

    PETUGAS

    \r\n

    Dokter umum

    \r\n

    Ahli Bedah Plastik

    \r\n

    PROSEDUR

    \r\n

    1.     Pasien yang datang ke IGD dilayani oleh dokter jaga IGD dan perawat jaga IGD

    \r\n

    2.     Setelah selesai memeriksa dokter jaga IGD menetapkan diagnosa

    \r\n

    3.     Dokter jaga IRD melapor ke Ahli Bedah Plastik

    \r\n

    4.     Ahli Bedah Plastik menentukan diagnosis terapi

    \r\n

     
    \r\nPROSEDUR PENANGANAN ULKUS DEKUBITUS

    \r\n

    PENGERTIAN

    \r\n

    Terapi konservatif dilakukan pada ulkus yang kecil dimana tanpa tindakan bedah dapat sembuh, bila faktor-faktor penyebab atau yang mendasari dapat dihilangkan/ diatasi.

    \r\n

    Terapi operatif : dilakukan pada ulkus yang besar dengan suatu keyakinan tindakan ini akan berhasil, dalam hal ini perlu dukungan dari perawat ruangan, keluarga penderita dan penderitanya sendiri dalam perawatan pasca bedah.

    \r\n

    TUJUAN

    \r\n

    Terapi untuk ulkus dekubitus

    \r\n

    KEBIJAKAN

    \r\n

    Semua penderita dengan ulkus dekubitus yang diyakini pasca tindakan dapat berhasil dan tidak terjadi rekurensi.

    \r\n

    Bagi penderita dengan tetraplegia harus diyakinkan dapat dilakukan mobilisasi pasif, log rolling oleh keluarganya.

    \r\n

    PETUGAS

    \r\n

    Dokter umum

    \r\n

    Ahli Bedah Plastik

    \r\n

    PROSEDUR

    \r\n

    1.     Penerangan untuk pasien dan keluarga

    \r\n

    2.     Ulkus kecil dapat sembuh sendiri bila faktor penyebab dihilangkan

    \r\n

    3.     Usaha pencegahan keadaan yang lebih buruk

    \r\n

    Ø     Pengurangan tekanan : merubah posisi setiap 2 jam, alas tidur bahan yang empuk.

    \r\n

    Ø     Kulit dijaga kering dan bersih jangan sampai kotor karena urine dan faeses

    \r\n

    Ø     Diusahakan segera mobilisasi aktif

    \r\n

    4.     Rawat luka dan debridement

    \r\n

    5.     Perbaiki keadaan umum

    \r\n

    6.     Tindakan operasi harus yakin akan berhasil

    \r\n

    7.     Jahitan dipertahankan lebih lama

    \r\n

    8.     Benang tahan lama dan monofilamen

    \r\n

    9.     Operasi:

    \r\n

    ü     Eksisi + kuretase dan skin grafting

    \r\n

    ü     Eksisi + kuretase dan flap:

    \r\n

    o      Rotation flap

    \r\n

    o      Rhomboid flap

    \r\n

    o      Myocutaneus flap

    \r\n

    10.  Rehabilitasi: latih otot-otot

    \r\n

    3. Ekstremitas

    \r\n

    Lymphedema. Secara embriologis saluran getah bening (lymphe) berasal dari system vena dan membentuk tiga pembuluh utama yaitu:

    \r\n

    1.               Ductus thoracicus

    \r\n

    2.               Ductus lymphaticus dextra

    \r\n

    3.               Cysterna Chyli

    \r\n

    Pembuluh getah bening terdiri atas 3 lapisan: (1) Tunika intima, (2) media dan (3) adventitia. Pada pembuluh lymphe yang besar didapatkan katub-katub yang mengatur aliran lymphe. Berbeda dengan pembuluh kapiler lain, pembuluh kapiler getah bening terdiri dari satu lapis endothelial, tidak mempunyai lapisan dasar membran yang jelas dan menunjukkan adanya alur intraseluler. Perbedaan ini dapat menjelaskan adanya proses difusi intraseluler dari protein serta lipid pada jaringan interstitial kembali ke sirkulasi getah bening. Jalur cairan getah bening bermula dari rongga interseluler yang berhubungan dengan sinusoid getah bening menuju ke kapiler getah bening. Kapiler getah bening terdapat pada dermis dari permukaan tubuh, tidak terdapat pada CNS, kartilago, bagian intralobar hepar. Fungsi utama sistim getah bening adalah fungsi hemostatis, mengatur lingkungan sel secara mikro dengan perubahan-perubahan komposisi dari cairan interstitial. Termasuk dalam fungsinya adalah drainage, menyaring benda asing melalui cairan interstitial dan protein yang kembali ke saluran getah bening, transportasi bahan-bahan dari interstitial ke sistim vaskuler. Cairan getah bening merupakan ultrafiltrat dari darah, pada tingkat kapiler merupakan balans untuk tekanan onkotik dalam rongga inter dan intravaskuler.

    \r\n

    Hanya 0-1% dari volume total tinggal dalam cairan ekstraseluler dan ekstrakapiler, lainnya kembali ke intravaskuler.

    \r\n

    Bila filtrasi kapiler melebihi resorbsi sistim venous dan getah bening, akan terjadi edema. Dengan demikian sebagai penyebab dapat berupa kegagalan relative atau absolut dari kapasitas transport getah bening. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah permeabilitas kapiler, filtrasi, tekanan onkotik, serta inflamasi setempat atau sistemik.

    \r\n

    Tipe lymphedema ada dua yaitu:

    \r\n

    1.               Primer/ Idiopatik. Merupakan abnormalitas pada pertumbuhan sistim saluran getah bening.

    \r\n

    2.               Sekunder Disebabkan adanya obstruksi aliran getah bening karena pembedahan, radiasi, sel-sel kanker atau parasit.

    \r\n

                Tipe primer berdasarkan munculnya gejala, dikenal sebagai lymphedema congenital praecox dan tarda. Dan berdasarkan bentuk dan jumlah pembuluh lymphe melalui lymphangiografi dibagi menjadi:

    \r\n

    1.               Aplasia

    \r\n

    2.               Hypoplasia

    \r\n

    3.               Hyperplasia

    \r\n

                Penyakit Meige disebut juga lymphedema praecox merupakan 80% dari lymphedema primer, terutama didapatkan pada wanita, muncul pada decade kedua atau ketiga, mulai dari pergelangan kaki, umumnya satu sisi.

    \r\n

    \r\n

    Gambar 83. Lymphedema

    \r\n

    0Mula-mula dapat mereda dengan istirahat, mengalami eksaserbasi waktu jalan atau pada periode haid.

    \r\n

    ·                 Lymphedema tarda terjadi setelah 35 tahun, lebih jarang hanya sekitar 10% dari lymphedema primer.

    \r\n

    ·                 Lymphedema sekunder terjadi karena destruksi atau pengambilan kelenjar lymphe didaerah inguinal atau axial waktu pembedahan, irradiasi, radang atau trauma.

    \r\n

                Di Indonesia filariasis yang menginvasi kelenjar lymphe merupakan salah satu penyebab yang penting pada beberapa daerah. Filaria penyebab biasanya Ischeria Bancrofti. Mikrofilaria terbawa melalui darah dan saluran getah bening dan mempunyai predileksi untuk menetap disaluran getah bening dan kelenjar getah bening dan bentuk dewasanya menyebabkan obstruksi. Staging dari lymphedema didasarkan atas kenaikan volume yang dibandingkan dengan sisi kontralateral yang normal. Ada dua cara untuk staging yaitu:

    \r\n

    1.               Menurut kenaikan volume (Tracy) → 150 cc dianggap tidak nyata, 150 -600 cc dianggap ringan, 600 – 750 cc sedang, ≥ 750 cc berat.

    \r\n

    2.               Presentasi kenaikan volume (Stillwell) → 10% dianggap tidak nyata, 11-30 % ringan, 41 – 80 % jelas dan ≥ 80 % berat.

    \r\n

    Pengukuran secara periodic dari ekstremitas dengan lokasi tertentu dapat dipakai untuk mengetahui adanya lymphedema serta perkembangannya. Lyphedema secara klinis diketahui dengan adanya pitting edema. Bila edema ini berjalan lama maka cairan yang mengandung protein sangat tinggi ini akan mudah terjadi fibrosis dan berubah menjadi non pitting.

    \r\n

    Pengobatan :

    \r\n

                Konservatif dapat dibagi dalam dua cara yaitu dengan cara mekanik dan cara farmakologis. Pengobatan untuk stadium permulaan dapat dilakukan elevasi, bebat tekan dan hypertermi, pemberian diuretika tidak membantu. Pengobatan terhadap filaria dilakukan bila infeksi masih aktif. Pengobatan terhadap lymphedema yang menahun umumnya tidak memuaskan. Untuk elephantiasis yang besar dan berat, terapi yang sering dilakukan adalah eksisional, namun kekambuhan, hyperkeratosis dan perembesan cairan sering terjadi.

    \r\n

    Operasi :

    \r\n

    1.               Kondoleon → membuang sebagian massa kulit, sub kutan dan fascia dari ekstremitas dengan maksud menghubungkan kompartement superficial dengan compartment profunda dari ekstremitas.

    \r\n

    2.               Thompson → memodifikasi teknik Kondoleon dengan menyelipkan dermis yang kaya akan pembuluh lymphe yang sudah dideepitelisasi diantara otot-otot, dengan maksud menjamin aliran lymphe dari superficial ke profunda.

    \r\n

    3.               Charles → malah membuang seluruh jaringan kulit dan subkutan yang hipertrofik serta fascia dengan defek yang ada ditutup split thickness skin graft.

    \r\n

                Usaha lain baik flap kulit maupun omentum yang diletakan sebagai penghubung daerah lymphedema dengan daerah normal yang diharapkan dapat membantu pengaliran lymphe → tidak memenuhi harapan. Telah juga dicoba melakukan anastomose dengan bedah mikro antara saluran lymphe dengan saluran lymphe atau dengan vena, tetapi sejauh ini masih mengalami kegagalan.

    \r\n

    PROSEDUR DIAGNOSIS LYMPHEDEMA

    \r\n

    PENGERTIAN

    \r\n

    Lymphedema adalah udema yang terjadi karena terganggunya aliran limfe. Terdapat dua jenis lymphedema yaitu:

    \r\n
      \r\n
    1. Primer / idiopatik. Merupakan abnormalitas pada pertumbuhan sistem saluran getah bening.
    2. \r\n
    \r\n

    Tipe ini berdasarkan munculnya gejala, dikenal sebagai

    \r\n

    ü     ”lymphedema congenital praecox” dan

    \r\n

    ü     ”tarda”

    \r\n

    Berdasarkan bentuk dan jumlah pembuluh limfe melalui lymphangiografi dibagi menjadi:

    \r\n

    ü     Aplasia

    \r\n

    ü     Hipoplasia

    \r\n

    ü     Hiperplasia

    \r\n
      \r\n
    1. Sekunder. Disebabkan adanya obstruksi aliran getah bening karena pembedahan, radiasi, sel-sel kanker atau parasit
    2. \r\n
    \r\n

    Karena terganggunya aliran limfe maka jumlah cairan ekstra seluler menjadi sangat banyak dan kadar protein yang sangat tinggi mengakibatkan mudahnya terjadi infeksi dan akhirnya terjadi fibrosis. Lymphedema yang lanjut akan menjadi elephantiasis.

    \r\n

    TUJUAN

    \r\n

    Menegakkan diagnosa

    \r\n

    KEBIJAKAN

    \r\n
      \r\n
    1. Pemeriksaan klinis
    2. \r\n
    \r\n

    Anamnesis

    \r\n

    Pemeriksaan Fisik : adanya tanda-tanda obstruksi aliran limfe

    \r\n

    Pitting oedema atau non-pitting oedema

    \r\n

    Kulit keras, kasar, bengkak dan menebal

    \r\n

    Hiperpigmentasi

    \r\n
      \r\n
    1. Pemeriksaan laboratories : pemeriksaan filaria brancrofti
    2. \r\n
    3. Pemeriksaan penunjang : Lymphangiografi
    4. \r\n
    \r\n

    DIAGNOSA BANDING

    \r\n

    Udema lain : hipoproteinemia, penyakit ginjal, penyakit jantung

    \r\n

    Makrodactyly

    \r\n

    Hamil

    \r\n

    Akut venous trombosis

    \r\n

    KOMPLIKASI

    \r\n

    Infeksi mengakibatkan selulitis

    \r\n

    Pada elephantiasis karena sangat berat mengakibatkan cacat/ invalid

    \r\n

    PETUGAS

    \r\n

    Dokter umum

    \r\n

    Ahli Bedah Plastik

    \r\n

    PROSEDUR

    \r\n
      \r\n
    1. Pasien yang datang ke IGD dilayani oleh dokter jaga IGD dan perawat jaga IGD
    2. \r\n
    3. Setelah selesai memeriksa dokter jaga IGD menetapkan diagnosa
    4. \r\n
    5. Dokter jaga IGD melapor ke Ahli Bedah Plastik
    6. \r\n
    7. Ahli Bedah Plastik menentukan diagnosis terapi
    8. \r\n
    \r\n

    4. Syndactyly

    \r\n

    Syndactyly adalah lekatnya jari-jari secara kongenital yang merupakan kelainan herediter. Faktor luar juga berpengaruh, seperti Riboflavin pada tikus.

    \r\n

    \r\n

    Gambar 84. Syndactyly digiti II-III manus dekstra

    \r\n

    \r\n

    Gambar 85. Separasi syndactyly

    \r\n

    \r\n

    Gambar 86. Zig-zag insisi pada syndactyly

    \r\n

    Laki-laki lebih banyak dari pada wanita. Insidennya 1 : 1000-3000 kelahiran.

    \r\n

    Jenis Syndactyly :

    \r\n

    \r\n

    A                           B                               C                              D

    \r\n

    Gambar 87. A. Simple, Incomplete→ melekat hanya pada kulit dan terletak tidak daerah distal, B. Simple, Complete→ sampai daerah distal phalang, C. Complex→ terjadi perlekatan pada tulang bagian distal phalang, D. Complicated→ Tulang, syaraf, maupun tendon bisa bergabung.

    \r\n

    Terapinya adalah separasi melakukan :

    \r\n

    ·                 Zig-zag insisi

    \r\n

    ·                 Smal Flap

    \r\n

    ·                 Skin graft.

    \r\n

    Umumnya tindakan dilakukan pada usia 18-24 bulan dimana kekuatan tonus otot jari dalam melawan retraksi graft mulai ada, serta kesukaran dalam fiksasi jari bayi.

    \r\n

                Polidactyly→ merupakan bentuk duplikasi jari. Bentuk yang paling ringan dapat berupa tonjolan kulit dengan atau tanpa tulang, duplikasi satu phalang sampai duplikasi seluruh jari termasuk metacarpalnya (hexadactyly). Kelainan ini juga herediter dan sering bersamaan dengan syndactyly. Polidactyly lebih sering terdapat pada ibu jari, lalu kelingking, jari ke 3 dan ke 4, hampir tidak pernah pada jari ke 2. Pada ibu jari juga sering ditemukan triphalangi. Terapinya adalah eksisi ekstra digit. Pada ibu jari sebaiknya yang dibuang adalah bagian tengah lalu bagian tepi digabung. Perlu diperhatikan kemungkinan transfer otot atau tendon yang bersangkuatan

    \r\n

    Tipe polidactyly

    \r\n

    \r\n

    \r\n

    Gambar 88. Polydactyly

    \r\n

    5. Fingertip Injury

    \r\n

    1.               Luka yang disertai skin/ soft tissue lose pada daerah distal dari insersi tendon fleksor profunda

    \r\n

    2.               Sebagai end organ yang peka dalam perabaan

    \r\n

    3.               Insiden di USA 10 % dari semua kecelakaan tangan

    \r\n

    Prinsip terapi:

    \r\n

    1.               Mengembalikan fungsi

    \r\n

    2.               Mempertahankan panjang dari jari

    \r\n

    3.               Mempertahankan ketebalan dari soft tissue dan kulit agar sensitive dalam perabaan

    \r\n

    4.               Mencegah kontraktur sendi

    \r\n

    5.               Mempercepat penyembuhan dengan morbiditas rendah

    \r\n

    6.               Penampilan baik

    \r\n

    \r\n

    Gambar 89.Potongan melintang phalang distal memperlihatkan ketebaln yang tidak sama antara bagian anterior dan posterior. A= matriks kuku, b= dasar kuku, c= hyponychium, 1= tendon ekstensor, 2=tendon fleksor, 3=artikulasi interphalangeal distal, 4= lipatan kuku, 5= bagian distal lipatan kuku, 6=ujung lipatan kuku, 7=eponychium, 8=lunula, 9=phalang distal, 10=nail self, 11=pulpa

    \r\n

    5.1. Klasifikasi Fingertip Injury

    \r\n

    \r\n

    \r\n

    Gambar 90. Level 1: skin only., Level 2: skin and nail bed; no bone., Level 3: skin, nail bed, and bone distal to the proximal 1/3-middle 1/3  junction of the bone, based on x-ray., Level 4: skin, nail bed, and bone at or proximal to the above., Level 5: proximal to any germinal matrix

    \r\n

    \r\n

    Gambar 91. Finger tip injury., Type A: Volar loss of skin and pulp  tissue without exposed bone., Type B: Volarly directed fingertip amputation with exposed bone., Type C: Guillotine (transverse) fingertip amputation with exposed bone., Type D: Dorsally directed fingertip amputation with exposed bone.

    \r\n

    5.2. Penatalaksanaan fingertip injury

    \r\n

    \r\n

    Gambar 92. V- Y Plasty

    \r\n

    \r\n

    Gambar 93. Cross Finger flap