PT. Dharma Medika Estetika

Selamat Datang di Website PT. Dharma Medika Estetika : DARPLASTIC AESTHETIC CLINIC, COSMETIC CLINIC, Laboratorium, Apotik, Reflexi Therapy, Spa. Dr. DHARMA PTR MALUEGHA., Spesialis Bedah Plastik......
PT. Dharma Medika Estetika

Pilihan Bahasa

 

Pelayanan Gratis

    Polling

    Apakah informasi yang ditampilkan di website ini membantu anda?
     Ya
     Mungkin
     Tidak

    Statistik Web

    Total Total Kunjungan : 183696
    Today Kunjungan Hari Ini : 99
    Online Online User : 1
    Update Last Update : 13-08-2014

     

    Bagian ke lima

    Bagian Kelima

    Cacat Sekitar Mata dan hidung

    1, Ptosis Palpebra Kongenita

    Pada posisi tegak dan memandang lurus  kedepan,   tepi bawah dari palpebra superior berada dipertengahan antara batas atas kornea dan tepi atas dari pupil. Bila posisi lebih rendah dari ini akan didapatkan blepharoptosis atau disingkat Ptosis. Ini dapat terjadi unilateral atau bilateral.

    Gambar 66.


    Ptosis unilateral 

    Gambar 67.

    Ptosis bilateral

    Gangguan pertumbuhan m.rectus superior pada bulan ke empat kehamilan menyebabkan terjadinya ptosis. Pada keadaan ini didapatkan fibrosis pengganti serabut-serabut otot bergaris. Ptosis juga terdapat pada sindroma blepharo-phimosis, yaitu ptosis palpebra superior, epicanthus inversus dan phimosis dari fissura palpebra. Keadaan ini biasanya merupakan kelainan herediter. Pembedahan ptosis tergantung seberapa jauh fungsi levator masih tersisa. Pada keadaan dimana fungsi ini sangat kurang (kurang dari 4 mm), sebaiknya dilakukan pembedahan dengan suspensi fascia lata m.frontalis diatas alis (saat ini juga tersedia sediaan fascia dari fascia bovin di Bank Jaringan). Rekonstruksi pada fungsi levator yang cukup, pilihannya adalah reseksi dari levator dan koreksi dari aponeurosa.

    Gambar 68. Blepharoplasty atas

    Gambar 69. Fascia sling untuk mengkoreksi severe ptosis

    2. Rekonstruksi Palpebra

                Hilangnya seluruh tebal palpebra yang disebabkan oleh operasi keganasan atau trauma, harus segera dilakukan rekonstruksi agar supaya tidak terjadi kerusakan kornea atau bola mata. Palpebra superior jauh lebih penting oleh karena mobilitasnya, sehubungan dengan fungsi melihat dan perlindungan terhadap kornea. Sedangkan palpebra inferior sekalipun habis, tidaklah terlalu mengganggu fungsi sehingga masih bisa tolerir. Untuk defek sampai seperempatnya pada anak muda, atau sepertiganya pada orang-tua, jahit primer dapat dilakukan tanpa atau dengan lateral canthotomi lebih dahulu.

    Bila defek palpebra lebih dari itu maka ada beberapa prinsip:

    1.               Untuk palpebra superior diambilkan donor dari palpebra inferior

    2.               Untuk palpebra inferior boleh diambilkan dari tempat lain (lokal flap, komposit graft septum nasi, dll)

    3.               Hanya tigaperempat palpebra yang perlu direkonstruksi. Ini memudahkan perencanaannya.

    3. Deformitas Telinga

    Bila terjadi karena kelainan bawaan atau didapat. Sebagai kelainan bawaan klasifikasi klinik menurut Tausen adalah:

    1.               Anotia

    2.               Mikrotia ( hipoplasia seluruhnya) dengan atau tanpa atresia kanal telinga luar, hipoplasia sebagian daun telinga dan daun telinga yang prominent.

    Kelainan yang didapat , bisa karena luka bakar, trauma lain atau setelah eksisi tumor. Kelainan bawaan sebaiknya dikoreksi setelah anak umur 6 tahun, karena pertumbuhan telinga pada umur tersebut telah hampir selesai.

    Gambar 70. Insetting kartilago pada rekonstruksi telinga

                Rekonstruksi daun telinga memerlukan tahapan-tahapan diantaranya adalah rotasi dari lubolus yang vertical ke posisi transversal. Pemasangan kerangka telinga yang bisa dibuat dari kartilago costae atau silicon inplant, elevasi kerangka telinga yang telah dibentuk disertai grafting kulit dibagian dorsalnya. Silikon implant ditelinga sering menembus kulit sehingga perlu dikeluarkan lagi. Kadang-kadang dibuatkan lekukan sebagai simulasi lubang telinga, tetapi tidak direncanakan pembuatan saluran telinga luar, karena tulang pendengaran telingapun tidak terbentuk dengan sempurna. Telinga yang prominent atau Bat Ear dikoreksi dengan memperjelas lekukan yang ada pada telinga.

    HIDUNG

                Defek kulit didaerah hidung umumnya dapat dikoreksi dengan forehead flap atau island flap dahi bagian tengah dengan pedikel vasa supra trochlearis, atau dengan transposisi flap dari daerah sulkus naso labialis.

    Gambar 70. Nasolabial flap untuk menutup defek post eksisi basalioma nasal tip

    Kehilangan seluruh tebal dari ala nasi yang luasnya tidak melebihi 1cm2 dapat dikoreksi dengan graft komposit dari daun telinga.

    1. Rhinophyma

                Rhinophyma adalah tumor diujung hidung oleh karena hyperplasia kelenjar sebacea dan penebalan fibrotik pada kulitnya. Juga dianggap sebagai bentuk akhir dari acne rosacea. Dapat sangat besar seperti gambaran hidung lelucon pinokio. Terapinya dilakukan penipisan sampai bentuk normal. Epitelialisasi mudah terjadi dari dasar luka. Juga dapat dilakukan eksisi total dengan grafting kulit.

    Penyebab pasti tidak diketahui, diduga karena virus, infeksi bakteri atau konsumsi alkohol yang berlebihan

    Gambar 72. Rhinophyma mild-moderate, penampakan berwarna kemarahan, menonjol, berdungkul-dungkul, melibatkan hanya sebagian kecil dari hidung

    Gambar 73. Rhinophyma severe, efek melibatkan keseluruhan hidung, bentuk hidung mengalami distorsi, terjadi obstruksi jalan nafas hidung.

    Deferensial diagnosis:

    1.               Kanker kulit

    2.               Kanker kelenjar sebasea

    3.               Sarkoidosis

    4.               Infeksi kronik sistemik

    Terapi:

    nonsurgical:

    o                Membersihkan Meticulous

    o                Higiene kulit

    o                Antibiotik oral, atau topical

    o                Isotretinoin

    o                Benzoyl peroxide 5% gel

    Surgical:

    o                Dikerok dengan skapel

    o                Elektrokauter

    o                Laser karbondioksida

    o                Cryotherapy

    Gambar 74. Rhinophyma sebelum dan sesudah dikerok dengan skapel

    Gambar 75. Rhinophyma setelah dilakukan penipisan